Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi menginstruksikan militer AS untuk mengambil tindakan represif tingkat tinggi di Selat Hormuz. Perintah untuk “menembak dan membunuh” ditujukan kepada kapal-kapal kecil Iran yang terdeteksi melakukan pemasangan ranjau laut di jalur pelayaran internasional tersebut.
Pengumuman ini disampaikan pada Kamis (23/4/2026), sebagai respons langsung atas meningkatnya gangguan terhadap lalu lintas energi global di salah satu titik mati (chokepoint) paling vital di dunia.
BACA JUGA : Kebocoran Blokade Energi: 34 Tanker Iran Dilaporkan Lolos dengan Muatan Minyak Senilai Rp 15 Triliun
Perintah Operasi Militer yang Diperketat
Melalui pernyataan resminya, Presiden Trump menegaskan bahwa perlindungan terhadap jalur maritim adalah prioritas mutlak. Berikut adalah poin-poin utama dari kebijakan terbaru Washington:
- Izin Penggunaan Kekuatan Mematikan: Angkatan Laut AS diberikan wewenang untuk menghancurkan kapal mana pun, termasuk kapal cepat kecil, yang kedapatan sedang memasang ranjau di perairan Selat Hormuz.
- Pembersihan Ranjau Masif: Kapal penyapu ranjau AS saat ini sedang beroperasi secara intensif di selat tersebut untuk memastikan keamanan navigasi.
- Eskalasi Intensitas: Trump memerintahkan agar operasi pembersihan dan pengawasan ditingkatkan hingga tiga kali lipat dari kapasitas sebelumnya.
Langkah tegas ini diambil tak lama setelah AS menyita kapal tanker Majestic X berbendera Guinea di Samudra Hindia. Kapal tersebut diduga kuat terlibat dalam jaringan penyelundupan minyak mentah Iran yang telah dijatuhi sanksi oleh Departemen Keuangan AS sejak 2024.
Respons dan Klaim Garda Revolusi Iran
Di pihak lain, Teheran justru menunjukkan sikap yang semakin menantang. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan telah menyerang tiga kapal kargo di Selat Hormuz dan menyita dua di antaranya sebagai bentuk unjuk kekuatan.
Kepala Peradilan Iran, Gholam Hossein Mohseni Ejei, memberikan pembenaran hukum atas tindakan tersebut:
- Tindakan Hukum: Kapal-kapal yang disita dianggap telah melakukan “pelanggaran” yang merugikan kepentingan Iran.
- Kebanggaan Nasional: Ejei menyatakan bahwa keberanian militer Iran di Selat Hormuz adalah sumber kehormatan bagi bangsa.
- Provokasi Retoris: Ia mengklaim bahwa pihak Amerika Serikat sebenarnya “tidak memiliki keberanian” untuk melakukan pendekatan fisik yang berisiko di dalam wilayah selat yang dijaga ketat oleh Iran.
Kebuntuan Jalur Diplomasi dan Gencatan Senjata di Lebanon
Meskipun tensi di laut terus meningkat, Donald Trump mengambil langkah berbeda di front lain dengan memperpanjang gencatan senjata di Lebanon selama tiga pekan ke depan. Namun, upaya perdamaian yang lebih luas dengan Iran masih menghadapi jalan buntu yang signifikan.
Hambatan dalam Perundingan:
- Lokasi Pertemuan: Rencana pertemuan bilateral di Islamabad, Pakistan, hingga saat ini belum dapat terlaksana.
- Prasyarat Iran: Teheran menolak keras untuk duduk di meja perundingan sebelum AS mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
- Tuntutan AS: Gedung Putih bersikeras bahwa syarat utama negosiasi adalah pembukaan kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas internasional secara bebas tanpa intimidasi militer.
Dampak Global
Selat Hormuz merupakan urat nadi bagi sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dan gas alam dunia. Kebuntuan diplomasi dan ancaman konfrontasi fisik di wilayah ini dikhawatirkan akan memicu guncangan hebat pada pasar energi global dan meningkatkan harga komoditas secara drastis jika stabilitas keamanan tidak segera tercapai.