Beranda » Kontroversi Klaim Gencatan Senjata AS: Thailand Tingkatkan Serangan di Perbatasan Kamboja

Kontroversi Klaim Gencatan Senjata AS: Thailand Tingkatkan Serangan di Perbatasan Kamboja

Jakarta/Bangkok – Konflik bersenjata kembali memanas di sepanjang perbatasan Thailand dan Kamboja, setelah pertempuran pecah lagi pada Sabtu (13/12/2025) pagi. Eskalasi terbaru ini terjadi di tengah kontroversi diplomatik menyusul klaim yang dilontarkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang menyatakan telah mengamankan kesepakatan gencatan senjata antara kedua negara.

Baca Juga : Penindakan Tegas Pemerintah: 3 Tambang Batubara Ilegal di Muara Enim Ditutup, 1.430 Ton Batubara Disita

Laporan dari NBC dan sumber-sumber lain menunjukkan bahwa klaim Trump tersebut segera dibantah oleh otoritas Thailand. Pemerintah Thailand menegaskan bahwa tidak pernah ada kesepakatan penghentian tembakan yang dicapai. Pemerintah Kamboja juga tidak memberikan konfirmasi atas klaim tersebut. Ironisnya, Kementerian Pertahanan Kamboja melaporkan bahwa jet tempur Thailand melancarkan serangan udara di wilayah perbatasan pada hari yang sama dengan klaim yang beredar.

Thailand Bantah Keras Klaim Intervensi Diplomatik AS

Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow, menyampaikan kekecewaan mendalam atas pernyataan Presiden Trump. Ia menyatakan bahwa klaim tersebut tidak mencerminkan pemahaman yang akurat mengenai kondisi faktual di lapangan.

“Kami menyesalkan dan kecewa karena beberapa pernyataan Presiden Trump memengaruhi perasaan rakyat Thailand. Kami memandang diri kami, bahkan bangga, sebagai sekutu perjanjian tertua Amerika Serikat di kawasan ini,” ujar Sihasak, menyoroti dampak psikologis dan hubungan bilateral akibat pernyataan tersebut.

Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, juga secara langsung menegaskan bahwa Thailand belum menyepakati gencatan senjata apa pun. Anutin mengklaim telah menjelaskan langsung kepada Trump bahwa penghentian pertempuran hanya akan terwujud jika Kamboja terlebih dahulu menghentikan serangan militernya. Setelahnya, Kementerian Luar Negeri Thailand secara resmi mengeluarkan bantahan publik yang menyangkal tercapainya kesepakatan gencatan senjata.

Akar Konflik dan Dampak Bentrokan Berulang

Eskalasi terbaru ini berakar dari bentrokan serius yang terjadi pada 7 Desember, yang dilaporkan melukai dua tentara Thailand dan secara efektif membatalkan gencatan senjata yang sempat disepakati sebelumnya.

Konflik perbatasan antara kedua negara ini adalah isu yang berulang dan sulit diatasi. Sebelumnya, kesepakatan damai sempat menghentikan pertempuran selama lima hari pada Juli lalu. Kesepakatan pada Juli tersebut dimediasi oleh Malaysia dan didorong oleh tekanan diplomatik dari AS, termasuk ancaman pencabutan fasilitas perdagangan jika pertempuran terus berlanjut.

Namun, pecahnya kembali pertempuran menunjukkan rapuhnya kesepakatan damai dan betapa dalamnya konflik teritorial yang melibatkan situs-situs bersejarah, seperti yang tercermin dari serangan sebelumnya terhadap Kuil Ta Krabei. Bentrokan yang terus berulang ini telah menimbulkan korban jiwa dan luka-luka di kedua belah pihak dan semakin meningkatkan ketegangan di kawasan perbatasan.

madebekel

Kembali ke atas